Bagaimana rasanya dikerumuni orang – orang ? orang – orang dengan ekspresi yang penuh rasa prihatin dan dengan diri yang tak berdaya tergeletak ? rasanya ingin memohon untuk digopoh, berharap dibantu berdiri tegap seperti sedia kala secara normal.
Jumat 12.15 saya dan si kunti (DD 3321 QV) berada dalam keadaan itu, keadaan tak berdaya dan berharap pertolongan pada siapa saja yang ada di sana. Kami terjatuh, di kubangan air tepat pembelokan masuk pertamina abd. daeng sirua makassar sepulang kuliah. Saya sama sekali tidak tahu ada lubang yang bisa membahayakan pengendara disana meskipun ini sudah kesekian kalinya mengisi bensin di TKP (tekape). Ironi memang tapi inilah takdir... cieeelaaahhh
Kronologisnya seperti ini, dengan kecepatan 40 km/jam saya melesat bersama si kunti dengan kondisi basah kuyup karena hujan deras (really derasnya guyss), saya lengkap dengan helm, masker dan jaket parasut kesukaan saya. Tas saya gantungkan di stir sebelah kiri dan map saya letakkan di bagian bawah tepat didepan kedua kaki. Ketika mendekati pertamina, saya mengambil ancang – ancang untuk berbelok ke kiri dengan menyalakan lampu weser (pengendara yang taat). Ban depan kunti masuk kubangan dan terpeleset, saya kaget tambah gas tiba – tiba dan “grrookkkkkkk” kami meluncur dan terjatuh ke sebelah kanan. Orang – orang yang saya sebut pahlawan yang baiknya gak ketulungan datang dan langsung bantuin saya berdiri dan nolongin si kunti. Dua orang lelaki gondrong (saya Cuma sempat liat yg dua itu soalnya unik gitue), yang satu bantuin saya berdiri trus ngajakin istirahat di bengkel sekaligus rumahnya dan yang satunya nolongin si kunti berdiri trus dipinggirin di samping bengkel bapak gondrong satu.
Saya dikasi air putih sama istrinya bapak gondrong yang punya bengkel vespa, mereka punya tiga anak yang masih kecil – kecil, keenamnya natap saya yang nangis gak jelas (gak ada yang nabrak trus luka juga gak parah – parah amat tapi air matanya seember.. hehee) saya memang orangnya gampang nangis guyss dan nangis kali ini karena kasihan sama diri sendiri aja yang kena tipuan kubangan air juga yang terpenting kasihan liat si kunti lecet trus kehujanan.
Bapak gondrong pemilik bengkel vespa sama keluarganya itu sangat baik, saya yakin mereka lah calon – calon penghuni surga, bemana kalo saya ini malaikat yang diutus Tuhan buat pura – pura jatuh nah kan mereka fix masuk surga (tapibukan yaa). Saya sadar kalau di dunia ini masih banyak orang – orang baik,orang – orang yang ikhlas menolong siapa saja yang membutuhkan meski dirinya sendiri secara nyata sangat terbatas, orang – orang yang berusaha membantu secara maksimal tanpa mengharap pamrih ataupun balasan. Yaa Allah, berkatilah mereka, bahagiakan mereka dan lindungilah mereka setiap saat, limpahkanlah rezeki yang halal untuk bapak gondrong yng baik hati dan keluarga kecilnya, cerdaskan anak – anak mereka, dan tempatkanlah mereka di derajat yang mulia. Saya tidak tau mesti membalas kebaikan tulus dan ikhlas mereka, hanya kata “Terima Kasih banyak Pak, Buk” yang bisa saya sampaikan langsung pada mereka, dan doa yang tulus akan selalu saya lantunkan untuk mereka... Amiin kan yaa guyss... saya merasa sangat beruntung bisa di pertemukan oleh orang – orang budiman di sepanjang usia saya..... Lukanya gak seberapa sih, tapi luamayan peris alian perih nan pedis :D
Sebulan Dua bulan dan hingga berbulan – bulan lamanya tak ada kabar dari Arga, kotak masuk pesan di hand phone Qina tak dihiasi lagi oleh pengirim “Agar” yah... agar adalah panggilanQina untuk Arga sejak mereka saling mengenal di SMP 4 tahun yang lalu.
Kesedihan dan kekalutan hati Qina tak lagi seperti saat – saat pertama perpisahan mereka, bukan karena Dia telah melupakan Arga, tentu itu hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Sejak lulus di jurusan Ilmu kesehaan, Dia mulai sibuk dengan ospek penerimaan mahasiswa baru dan kegiatan – kegiatan kampus lainnya. Dia sadar bahwa suasanan baru di kehidupan barunya membuat rasa sedih dan kalut mulai hilang secara perlahan, namun perasaannya untuk seorang Arga tak akan pernah berkurang sedikit pun.
Tak ada yang tau bagaimana masa lalu seorang Qina, bagaimana perasaannya saat ini, hampir seluruh teman kampusnya adalah orang – orang baru, kedua Sahabatnya berbeda kampus, Kiran melanjutkan kuliah di Ilmu Ekonomi sedangkan Fay di Teknik Arsitektur. Teman kampus Qina mengenalnya sebagai seorang yang ramah, cerewet dan lumayan pandai. Tak sedikit lelaki yang mengagumi bahkan menginginkannya sebagai pacar. Qina memang selalu menjaga perasaannya terhadap Arga, tapi dia tak menutup hati untuk orang lain yang ingin mendekatinya. Biarlah perasaan untuk Arga hanya Dia dan Sang Pencipta yang tau.
Tuhan... bodohkah Aku ?
Bodohkah Aku dengan perasaan ini ?
Perasaan menyayangi Arga ?
Perasaan merindukan Arga ?
Jangan hapuskan, Tuhan...
Biarkan perasaan ini tetap pada pemiliknya
Biarkan perasaan ini tetap hidup seutuhnya
Biarkan perasaan ini tetap tersimpan dengan indahnya
Qina bahagia dengan perasaannya, Dia merasa tiap langkah ada Arga disampngnya, tiap senyuman yang dikembangkannya pun Arga salah satu alasannya. Dia menganggap itu bukanlah suatu kebodohan atau kegilaan, tapi itulah anugerah yang Tuhan karuniakan untuknya, untuk seorang remaja biasa dengan perasaan luar biasa. Tak ada alasan bagi Qina membuang perasaan itu.
14 Juni 2008
Tepat Dua tahun keberangkatan Arga dan selama itu juga Qina sama sekali tak mendapat kabar apa – apa tentang Arga. Teman – teman SMA mereka sudah sibuk dengan urusan kuliah masing – masing sehingga untuk saling menyapa dengan sengaja tak ada yang sempat. Keluarga Arga juga sudah pidah ke Kalimantan Dua bulan setelah keberangkatan Arga ke Jakarta, katanya Ayah Arga dipindahtugaskan kesana dan nenek Arga yang memang orang Kalimantan sering sakit – sakitan hingga membutuhkan perawatan anaknya.
Fay (085298873xxx)
Gadis – gadisku, ketemuan yukk ! lunch bareng gimana ? aku tunggu di Solaria jam 2 okeh ? *yang gak dateng gak dapat oleh – oleh dari aku minggu depan :p
Pesan singkat dari Fay menjadi sambutan Qina hari itu, mereka memang ada janji ketemuan sebelum Fay berangkat ke Balikpapan untuk menghadiri acara pernikahan sepupunya. Sudah ada rencana dipikiran Qina jauh sebelum Fay mengajak untuk ketemuan dengannya. Bukan ingin meminta oleh – oleh tertentu, tapi untuk meminta bantuan Fay agar menanyakan kabar Arga kepada keluarganya di Samarinda, Kalimantan. Balikpapan dan samarinda tidak begitu jauh, apalagi keluarga Arga tinggal di perbatasan kota Smarinda dan Balikpapan. Hari itu menjadi hari yang istimewa bagi Qina.
“lamaa aku nunggu kalian, pelayannya udah dari tadi mondar – mandir” ketus Fay ketika Qina dan Kiran baru tiba dan duduk di depan bangkunya.
“maaf, tadi aku ada lab jadi yaa gitu deh” jawab Qina dengan nafas yang masih terlengah 0 lengah
“aku sih selesainya dari tadi, Cuma nungguin Nyobes ini nih” sambung Kiran dengan senyum sinis dibibir tipisnya.
Mereka selesai makan, Qina tiba – tiba memulai pembicaraan yang sejak tadi ingin dia ungkapkan
“Fay, Balikpapan dekatkan sama Samarinda ?” tanya Qina dengan menatap ke arah Fay yang masih meneguk sisa minumannya.
“gak, uhhh jauh beudd... mesti lewat tiga gunung tujuh padang trus empat belas pematang sawah... huahhhahahaa” jawab Fay dengan panjang lebar yang diakhiri tawa keras.
“uhhh... percaya deh ama mak lampir” sambung Qina dengan mata menyipit ke arah Fay.
“hehee... aku tau kok, apa dipikiran kamu, aku bakalan nyari alamat keluarganya Arga di Samarinda, kebetulan keluarga aku pengen kesana jengukin kebun kelapa sawit, ehh kebun kok di jengukin yaa... alamat lengkap keluarga Arga juga udah aku kantongin dapet dari bapaknya Kiran.. hehhh” ungkap Fay dengan senyuman dan wajah yang penuh semangat.
“serius kalian?” tanya Qina ingin memperjelas.
“iyah, serius banget !” sambung Kiran.
“wahh makasih yaa, kalian emang sahabat aku yang paling baik” kata Qina dengan mata yang berseri – seri.
“tadi aja dibilang mak lampir” ketus Fay sambil mencubit pipi kiri Qina yang montok.
Sudah seminggu setelah pertemuan Qina, Kiran dan Fay. Dia sudah tidak sabar menanti kabar dari Fay, tentang Arga dari keluarganya di Samarinda, Dia percaya kalau kabar yang Fay bawa untuknya akan menenangkan dan mengobati rasa rindunya yang teramat dengan Arga. Aina dan Fay tak pernah berkomunikasi selama Fay berada di Balikpapan, sinyal hand phone sangat sulit disana.
Minggu, 22 Juni 2008
Kiran dan Fay tiba dirumah Qina usai shalat Duhur, Qina begitu senang melihat sahabatnya Fay kembali dengan selamat dari Kalimantan, dan tentu membawa sesuatu yang sangat istimewa untuknya.
“ciiiee yang dari Kalmantan, masih ada aroma pewangi pesawatnya tuh... hehehee” spontan Qina dengan leluconnya ketika Fay dan Kiran duduk bersandar di kursi ruang tivinya.
“naa’, aku udah ketemu sama keluarganya Arga, mereka Alhamdulillah baik – baik aja trus titip salam buat kamu... dan... titip ini” ucap Fay menjelaskan kepada Qina lalu memberikannya secarik kertas ukuran A4.
“ohh ??”
Dari Agarr untuk Qinari :D
Aku ingin bersama dan menatapmu selamanya jika saja Tuhan mengkehendaki
Aku ingin bernyanyi untukmu selamanya jika saja Tuhan mengkehendaki
Aku ingin tersenyum untukmu selamanya jika saja Tuhan mengkehendaki
Dan Aku ingin memandangimu selamanya jika saja Tuhan mengkehendaki
Memandangimu yang selalu bersamaku
Memandangimu yang selalu setia padaku
Memandangimu yang selalu mengisi tiap detik hari – hariku
Jika saja ada angka tak terbatas yang Tuhan ciptakan untuk kita
Maka akan kukalikan dengan tiga tahun, tiga puluh delapan bulan, atau seribu seratus lima puluh lima hari untuk kuhabiskan denganmu hanya dengan mu...
Qinanti Trinoviana....
Nama ini selalu dengan lembut terucap oleh lidahku yang makin hari sulit kugerakkan
Nama ini begitu hangat terasa dihatiku yang makin hari makin tak sanggup bertahan
Dan nama inilah kelak menjadi penutup nafasku yang akan kubawa dan kukenalkan pada Tuhan di hari esok saat Dia memintaku tinggal bersamanya.
kuharap Tuhan tak mematikan kenanganku dan segala tentangku dihati pemilik nama ini....
untuk kecewa yang menjadi persembahan terakhirmu untuk ku...
Tak ada yang perlu disesali,
tak ada yang perlu di tangisi,
dan tak ada yang perlu di perbaiki...
sebab kita adalah dua manusia biasa dengan ego luar biasa,
sama – sama merasa tersakiti,
sama – sama merasa pernah menyayangi dan disayangi.
Mungkin kita perlu pendewasaan, atau mungkin perlu seseorang (bukan saya untuk kamu dan bukan kamu untuk saya) untuk belajar, berfikir dan bersikap dewasa. Ini bukan jalan satu - satunya (memang), namun ini jalan terbaik.
Kau termasuk yang terbaik yang pernah mengisi hari – hari ku, untuk itu saya berterima kasih dan berusaha agar tiga suku kata itu tak terdaftar dalam deretan persona non grata.ku...
TEORI DASAR Setiap benda mempunyai sifat lembam atau inert (malas bergerak) contohnya, suatu benda yang diam akan selamanya diam sepanjang ...
blog apa ini ?
kenapa kasi memerahmerona ??? karena saya yang bernama lengkap Nurul Fadillah Suwardi berkebangsaan Indonesia bergolongan darah AB (langka) hahahaa... hemmm, well guyss, I like Red Colour so Damn !!! cacacacahhhhh